Ciri-ciri kultus umumnya meliputi beberapa hal berikut:
-
Mengkultuskan seorang pemimpin hingga dianggap selalu benar, tidak boleh dikritik, bahkan perkataannya lebih diikuti daripada dalil atau aturan yang berlaku. - Menuntut ketaatan mutlak, tanpa ruang bertanya atau berdiskusi secara sehat.
- Mengisolasi anggota dari keluarga, teman, atau sumber informasi yang berbeda.
- Melarang kritik dan pertanyaan, serta menganggap keraguan sebagai dosa, pengkhianatan, atau tanda lemahnya iman.
- Mengklaim hanya kelompoknya yang benar, sedangkan semua kelompok lain dianggap sesat atau pasti salah.
- Mengendalikan kehidupan anggota, seperti pilihan pergaulan, pekerjaan, pendidikan, bahkan pernikahan secara berlebihan.
- Memanfaatkan anggota untuk kepentingan pemimpin, misalnya tenaga, harta, atau kekuasaan.
- Menggunakan rasa takut atau rasa bersalah agar anggota tetap patuh, misalnya ancaman dikucilkan atau mendapat hukuman jika keluar.
- Kurang transparan, terutama dalam urusan kepemimpinan, keuangan, atau pengambilan keputusan.
- Sulit keluar dari kelompok, karena ada tekanan psikologis, sosial, atau ancaman terhadap anggota yang ingin meninggalkan kelompok.
- Contohnya pelarangan santri mengikuti PKBM di tahun terakhir kepemimpinan Ustadz Haidar Rusdi. Jelas larangan itu meskipun hasil rapat dari dewan syuro, merupakan bentuk kezaliman kepada wali santri dan anak mereka. Jangankan melarang, tidak memfasilitasi saja sudah merupakan pengingkaran janji. Tapi adakah guru yang angkat bicara untuk mengkritik kebijakan Dewan Syuro (PJ Syari - Ust Kholid, Bilistiwa - Pak Wiwit, dan Kepala Sekolah - Ust Rudi)? Semuanya takut? Atau ikut membenarkan?
- Jangankan mengkritik, orang tua yang mempertanyakan kebijakan yang janggal dari pihak manajemen Kuttab dianggap kurang adab.
