Tampilkan postingan dengan label Buyung Eko Pramayana. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Buyung Eko Pramayana. Tampilkan semua postingan

20 Januari 2021

Suatu hari dua tahun yang lalu, saya dan istri menemani adik perempuan saya yang sedang menderita penyakit berat. Saat itu sudah berjalan tiga bulan, dimana kondisi fisik dan psikisnya menurun secara drastis.


Seperti hari-hari sebelumnya, saya "kebagian tugas" mijetin badannya sambil bercerita lucu. Membuat dia tertawa menjadi kebahagiaan tersendiri buat kami yang melihat langsung bagaimana dia menahan rasa sakitnya.


Tapi entah bagaimana mulanya, saya dan adik saya memulai perbincangan serius dengan saling meminta maaf. Dia meminta maaf karena merasa sudah mengganggu waktu saya.

Sebaliknya, saya juga meminta maaf karena sudah jadi dulur yang lumayan sering bikin dia gregetan. Sebuah pengakuan yang selama ini sulit saya ungkapkan.


Sejak saat itu hati saya plong. Terasa sekali ada beban yang terlepas di hati saya. Begitu pun dengan dia.

Meski sungkan untuk menelpon langsung, tapi dia sering tanya ke ibu saya atau ke suaminya saat saya absen menjenguk.


Selasa malam di awal Desember, adik saya tiba-tiba meracau dan mamong. Setelah dibawa ke rumah sakit, kondisinya makin ngedrop hingga kritis sampai dua hari berikutnya. Dan selama itu pula saya menemaninya. Tapi tidak bercerita lucu lagi. Cuma bisa talqin dan baca Qur'an di sampingnya.


Jumat siang saya pamit ke ibu saya dan suaminya untuk pulang, mandi dan istirahat sebentar. Lantas sorenya saya dikabari lewat telpon kalau adik saya akhirnya pulang.


Beberapa hari kemudian ibu saya cerita, di jumat siang itu ternyata adik saya sempat melek, sadar dan memanggil dua nama, sebelum kembali kritis dan akhirnya meninggal.

Mudah ditebak, dua nama itu kalau nggak ibu saya dan suaminya, atau kedua anak perempuannya.


Tebakan saya salah. Ternyata yang dipanggil adalah...saya dan adik saya satunya lagi. Kami memang tiga bersaudara.

Dia masih ingat saudaranya sebelum pulang.


Maaf, saya tidak bermaksud melow. Bukan kebetulan kalau secara tanggal hijriyah, dua tahun meninggalnya adik saya bertepatan dengan acara mabit kemarin.

Ini yang membuat saya akhirnya teringat banyak hal.


Pernahkah jenengan melihat sebuah komunitas, entah motor, mobil, fansclub bola, atau apapun? 

Berangkat dari kesamaan hobi, mereka berkomunitas, menemukan kebahagiaan dan akhirnya merasa seperti keluarga.


Atau seperti saat saya tinggal di sebuah perumahan di Tegal Besar. Berangkat dari kesamaan tempat tinggal, merasa nyaman, lantas para tetangga yang berada di satu RT tersebut membentuk grup WA, yang deskripsi grupnya adalah "kita semua saudara."


Kira-kira itu yang kami rasakan di Kuttab.

Berangkat dari kesamaan tempat sekolah anak...berangkat dari harapan yang sama terhadap adab & keimanan anak...kami pun pelan-pelan masuk ke dalam komunitas keluarga besar KAF Jember ini.


Dan masya Allah...tidak hanya mengenal banyak nama dan rumahnya, namun banyak hal baik yang kami dapat dari mereka. Hal baik yang perlahan merubah perilaku kami.

Perlahan memang. Kami belum berubah total. Tapi saya tetap bersyukur. Karena setau saya, hanya ksatria baja hitam yang bisa berubah seketika. 🤦‍♂️


Kami mulai nyaman dan menemukan kebahagiaan.

Kami merasa Kuttab seperti sebuah keluarga.

Kami merasa semua wali santri seperti saudara.


Dan sebagai saudara...pada kesempatan ini kami mohon izin untuk meminta maaf kepada jenengan semua.

Tak perlu kaget dan bertanya, "Pak Buyung kenapa?"


Meski dalam hal ilmu, kami kalah jauh dengan para ustadz/ah di Kuttab, namun dalam hal seringnya bertemu dengan para wali santri, kami ada di urutan kedua...di bawah ustadzah Ina, sang Admin Kuttab, tentunya. 😬


Seringnya bertemu dengan "saudara-saudara" kami ini yang justru berpotensi menggoreskan luka di hati. Bisa karena salah ucap, perilaku, gestur tubuh & mimik wajah yang tidak menyenangkan, janji yang meleset, atau bahkan karena tulisan.


Yang lebih kami khawatirkan lagi adalah saat yang kami lakukan sudah kami anggap baik dan benar, namun ternyata salah di hati jenengan. Kami tak sadar telah meninggalkan luka.


Dan sebaliknya, saat hati kami yang terluka, insya Allah kami berusaha memaafkan. Karena dari pengalaman kami menyimpan kekesalan, hanya menghasilkan ghibah dan hasad.

Sudah uring-uringan nggak jelas, pahala kami hangus pula! 😰


Itulah kenapa kami meminta maaf. Tidak ada maksud lain. Agar hati ini plong. Dan agar kekesalan itu tidak tersimpan lebih dari tiga hari. Tidak menunggu awal Ramadhan atau pas lebaran untuk meminta maaf.


Kami berusaha tulus dan lapang dada dalam meminta maaf dan memaafkan. 

Bukan sekedar maaf lalu menjauh dan tak ingin bertemu lagi.

Bukan sekedar maaf tapi aras-arasen untuk berbincang lagi.

Agar kita bisa terus berkumpul. Bisa terus berbagi ilmu dan nasehat. Saling bercerita lucu, dan bertanya kabar saat lama absen tak bertemu.


Sekali lagi, maafkan kami, saudaraku. Tetaplah nasehati kami saat salah. Kalaupun saat itu saya terlihat kesal, yaaa...manusiawi lah. Insya Allah besok normal lagi, kok.


Dan terakhir...saya juga bersyukur pernah sholat bersama jenengan.


Saya pernah sholat bersama wali santri dan keluarganya, di rumahnya di daerah talangsari, saat saya kelilingan antar barang, kehujanan, dan mampir ke rumahnya untuk pinjam pakaian.

Saya juga pernah sholat di Masjid/Musholla, yang ternyata imamnya adalah wali santri : di perumahan taman kampus, perumahan griya taman asri, dan Masjid Al-Muttaqin.

Puncaknya adalah ketika bisa sholat qiyamul lail bersama saat mabit.



Lantas apa istimewanya? Bukankah sholat berjamaah bisa dengan siapa saja dimana saja?


Kita tidak pernah tahu bagaimana nasib kita di akhirat kelak. Bila nanti ternyata jenengan tidak menemukan kami di Surga, kami berharap jenengan mau menanyakan keberadaan kami kepada Allah, nggeh...


Saya teringat dengan tulisan seorang dokter di muslimafiyah[dot]com, yang mengutip hadits Nabi Shallallahu 'Alaihi Wassalam :


...Setelah orang-orang mukmin itu dibebaskan dari neraka, demi Allah, Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya, sungguh kalian begitu gigih dalam memohon kepada Allah untuk memperjuangkan hak untuk saudara-saudaranya yang berada di dalam neraka pada hari kiamat.


Mereka memohon: "Wahai Tuhan kami, mereka itu pernah berpuasa bersama kami, shalat, dan juga haji.


Dijawab (oleh Allah): ”Keluarkan orang-orang yang kalian kenal.” Hingga wajah mereka diharamkan untuk dibakar oleh api neraka...


Kami berharap saat itu ada wali santri yang memanggil dua nama ini : pak buyung dan bu martin.

Semoga saat itu jenengan masih ingat kami...sebelum pulang ke Surga.


Rabbanaa aatinaa fid dunyaa hasanah, wa fil aakhiroti hasanah, wa qinaa 'adzaabannaar.

"Ya Allah, berikanlah kami keluarga besar KAF Jember kebaikan di dunia, berikan pula kebaikan di akhirat. Dan lindungilah kami semua dari siksa neraka."


Saudaramu...

se-Kuttab, se-Surga (aamiin)

Ayah & Bundanya Emil KA3C.

Meski dibarengi hujan yang cukup deras, sabtu siang itu saya berangkat ke rumah pak Susilo, yang menjadi titik kumpul rombongan Mabit Qowamah (Maqom). Sampai di sana, sudah banyak peserta lain yang tiba lebih dulu.



Saat bersalaman, saya lihat ada wali santri yang baru sekali ini jumpa dengan saya. Dengan penuh rasa hormat kepada beliau, kebetulan kedua wali santri ini sama-sama bertubuh gemuk. Tapi masya Allah, justru kelebihan fisik ini yang kelak jadi inspirasi kami semua di Maqom edisi ke-2 ini.


Saya pun menghampiri beliau. Yang satu bernama Pak Zayul, wali santri dari ananda Ahsan.

Salam hormat saya dan salut untuk beliau yang sudah berusaha datang, meski akhirnya tidak bisa meneruskan acara karena kondisi kurang fit. Syafakallah, pak.


Dan yang satunya adalah pak Heri, wali santri dari ananda Ibrahim.


Ba'da sholat ashar kami semua berangkat menuju lokasi di Wisata Boma, Gunung Pasang, Panti.  Setibanya di sana, satu persatu urutan acara yang sudah disusun panitia berjalan sebagaimana mestinya.


Sampai keesokan paginya, buat saya yang baru pertama kali ikut mabit, secara keseluruhan acara maqom ini sudah berjalan baik dan relatif lancar. Banyak ilmu yang didapat dari para pengisi materi, baik di sesi sharing maupun sesi kajian. Sesama peserta pun saling bercengkrama dan banyak nasehat yang terlontar. Butuh satu tulisan tersendiri untuk merangkum semua itu.


Tapi entah kenapa, di tengah keakraban yang terjalin, saya merasa masih belum dapat momen yang menyatukan hati seluruh peserta.

"Mungkin perasaan saya aja, kali", batin saya.


Setelah sarapan, kami pun berkemas untuk acara terakhir: berjalan menuju air terjun Tancak.


Sebelum berangkat naik, di parkiran saya melihat ada tulisan :

"aku selalu menunggu (yang katanya) indah pada waktunya".

Lantaran iseng, saya pun meminta pak Hadi untuk memotret saya dengan tulisan tersebut, yang terdengar indah namun menimbulkan tanya,

"apa pentingnya nulis ginian di tempat wisata?" 🤦‍♂️😓


Perjalanan menyusuri jalan tanah bebatuan, berliku & mendaki pun dimulai. Tidak ada pembagian kelompok. Semua berjalan bersama.

Saat start, saya berjalan bersampingan dengan pak Heri. Saya isi perjalanan dengan bincang dan tawa bersama peserta lain.

Namun berjalan waktu, bincang dan tawa itu pun semakin berkurang, seiring ngos-ngosan dan keringat yang semakin bertambah.

Kawan bersampingan saya pun silih berganti. Baik karena langkah mereka lebih cepat dari saya ataupun sebaliknya.


Di tengah perjalanan saya sempat bertanya kepada warga yang sedang ngarit rumput, 

"air terjun masih jauh, pak?"

"kira-kira 1,5 km, mas".

Meski dapat jawaban, saya masih kurang yakin dengan bapak ini, apakah kilometer yang dia gunakan sama dengan standar ukuran internasional, lantaran saya merasa nggak nyampe-nyampe. 🤦‍♂️


Sampai akhirnya di depan jalan menanjak nan curam, saya yang berjalan bertiga, bertemu dengan dua peserta lain yang berkeinginan untuk tidak melanjutkan perjalanan.

Saya yang sudah capek, mulai patah semangat & tergoda untuk ikut balik arah, meskipun suara deras air terjun sudah terdengar.

"daritadi jalannya nanjak tapi masih landai, itu aja udah bikin ngos-ngosan, lah ini curam, dan nggak tau seberapa jauh lagi!" pikir saya.


Di tengah kegalauan, seorang warga yang berjalan melewati kami, meyakinkan kami berlima kalau di balik jalan curam ini sudah masuk lokasi air terjunnya.


Kami pun akhirnya memaksakan diri naik. Dan benar... waterfall!! 

A L H A M D U L I L L A H


Saya segera bergabung dengan rombongan pertama yang sudah daritadi mandi air terjun duluan.

Puncaknya adalah ketika rombongan terakhir tiba. Dan...pak Heri turut serta di dalamnya!

Beliau disambut meriah. Tulus dari hati, kami salut melihat beliau berhasil sampai. Dan memang, akhirnya seluruh peserta berhasil sampai.

Pak Heri mengatakan pada saya kalau sepanjang jalan tadi banyak dibantu teman-teman. Tak lama beliau pun ikut nyebur, dan kami menemaninya sambil ber-"brig brig-gade gade"! ✊😀


Kami diliputi euforia. Meski wajah terlihat lelah, tapi rona bahagia tidak bisa disembunyikan. 

Semua berbasah-basahan di bawah air terjun di samping pelangi.

Kalau dalam dongeng jaka tarub yang mandi adalah bidadari, namun siang itu di Tancak justru "jaka tarub" dan teman-temannya yang asyik mandi. 🤦‍♂️


Siapa sangka momen happening itu terjadi di lokasi dengan ketinggian 985 meter dpl (diatas permukaan laut), yang mana semua peserta harus bersusah payah dulu mendaki.

Dan siapa sangka momen yang menyatukan hati seluruh peserta maqom kali ini adalah kehadiran pak Heri.


Sebelum turun pulang, kami sempatkan minum minuman hangat di warung satu-satunya di lokasi itu. Pemiliknya adalah bapak yang tadi meyakinkan saya di jalan tanjakan curam sebelum lokasi air terjun.


Dan...satu persatu hikmah pun bermunculan di hati dan pikiran saya...


- Kelelahan berjalan menanjak, meski tergolong landai, membuat saya merasa nggak nyampe-nyampe, dan patah semangat saat bertemu jalan yang curam. Akhirnya hilang keyakinan saya kalau di balik jalan curam tersebut air terjun sudah dekat, meski suara derasnya sudah terdengar.


Ini seperti gambaran jujur, bagaimana kurang sabarnya saya menghadapi ujian hidup dan masalah sehari-hari. Membuat saya patah semangat dan memilih menghindar saat bertemu masalah besar. 

Hilang keyakinan saya bahwa di balik kesulitan ada kemudahan. di balik kesulitan ada kemudahan. (maaf saya ketik dua kali).


"kalau ujian yang dihadapi terasa mulai banyak dan bertubi-tubi, itu tanda solusi (dari Allah) udah deket, pak buyung", nasehat ust. Gilig beberapa bulan lalu.

"iya ustadz, semoga", jawab saya.

"bukan semoga, tapi pasti!" balas beliau mantab, yang masih terngiang di telinga saya sampai hari ini.


Iya, keyakinan saya terhadap pertolongan Allah masih lemah. Berusaha keras tapi minim tawakkal, hanya menghasilkan lelah, tanpa petunjuk arah, dan akhirnya malah menghentikan langkah.

Meminjam istilahnya ust. Wiwit : saya harus me- muroja'ah lagi keyakinan saya. Karena masalah besar hanya diberikan kepada orang besar.


Sekarang saya paham maksud beliau berdua.


- Bapak pengarit rumput dan pemilik warung itu pun mengingatkan saya, bahwa sekeras apapun usaha saya mencapai air terjun, saya tetap butuh warga setempat yang paham daerah situ, untuk menunjukkan arah, dan untuk meyakinkan saya disaat lelah, kalau lokasi yang dituju sudah dekat.


Sekeras apapun usaha saya menyelesaikan masalah, saya tetap butuh para ahli ilmu, yang paham tuntunan solusi dari Sang Pemilik Ujian. 

Untuk mengarahkan langkah saya, dan untuk meyakinkan saya disaat hati lelah kehilangan harapan.


- Kisah pak Heri juga mengingatkan saya pentingnya kawan bersampingan & pentingnya saling membantu. 

Meski sama-sama lelah, ternyata saling membantu bisa saling menguatkan. 

Dan saling membantu itu membahagiakan satu sama lain.

Terbukti, momen happening tadi terjadi, justru saat kami semua melihat beliau berhasil sampai.


Itulah mengapa, bagaimanapun kondisinya, kita dianjurkan untuk bersama, berkumpul dan berkomunitas, khususnya dengan orang-orang sholeh.

Tidak lupa untuk mengambil peran dalam setiap kebaikan. Apapun kebaikannya.


Saya, dan mungkin juga jenengan... yang hari ini sedang menjalani hidup yang penuh bebatuan, berliku & mendaki... Saya percaya di balik lelah kita, Allah sedang siapkan tempat yang tinggi dan indah.

Asal bersabar, ikuti petunjukNya, dan yakin dengan pertolonganNya.


Dan saya selalu menunggu (yang pasti) indah pada waktunya.


Yaa hayyu yaa qoyyuum birohmatika astaghiits, ashlih lii sya'nii kullahu wa laa takilnii ila nafsii thorfata 'aiin.


Buyung Eko.

Peserta Maqom 2, bersama 29 ayah masya Allah lainnya.

Beberapa waktu lalu saya pindahan rumah. Atau lebih tepatnya: pulang kembali ke rumah sendiri. Karena rumah yang saya tempati selama 11 bulan terakhir di daerah Tegal Besar adalah rumah milik salah satu wali santri yang sudah berbaik hati mempersilahkan saya untuk menempatinya.

Jazakallah khair, barakallah fiikum. Semoga Allah memudahkan segala urusan jenengan, pak...🙏



Meski saat pindahan, harus diangkut dengan pick up 2 kali jalan (2 rit), tapi ternyata masih ada barang yang belum terangkut. Dan karena sisa barang tersebut tidak besar dan tidak banyak, maka saya putuskan untuk mengangkutnya dengan motor menggunakan tobos (tas sales).


Dua hari setelah pindahan, saya kembali ke rumah itu, lengkap dengan tobos untuk menuntaskan yang tersisa. Saat membuka pagar lalu masuk ke teras, saya pun dilanda baper. Saya memandangi tiap ruangan dan sudut rumah, sambil teringat kembali rutinitas yang biasa kami lakukan disana.


Saya pernah membaca artikel di rumaysho[dot]com, bahwa kelak di akhirat, bumi akan jadi saksi atas amalan kita. Dimanapun kita hidup, baik sekedar lewat, singgah, maupun menetap, bumi akan bersaksi apa saja yang pernah kita perbuat.


Itu artinya, rumah tegal besar yang pernah saya tempati itu tidak hanya sekedar jadi kenangan. Bumi di atas rumah itu berdiri kelak akan memberi saksi atas kelakuan saya selama tinggal disana.


Saya pun membayangkannya...

"ya Allah, buyung pernah memijat kaki istrinya di teras ini.."

Mungkin itu jadi berita baik di tengah ketakutan saya saat itu.

"...tapi mijitnya sambil ghibahin orang, ya Allah!"

Duh 🤦‍♂️...gak mungkin bisa mengelak saya saat itu. 😰


Beberapa hari kemudian (sabtu kemarin), tiba waktunya Kajian Orang Tua Santri (KOTS) yang diadakan kembali di Kedai Sholeh Juara. Kajian dibuat dua sesi, yaitu "khusus ayah" di pagi hari dan "khusus bunda" di siang harinya.


Dan...untuk pertama kalinya Bazaf gelar jualan di KOTS.

Buat kami, urusan hasil/omzet saat berjualan di kajian itu prioritas nomer sekian (tepatnya nomer dua sih 🤭)... karena nomer satunya adalah semoga apa yang kami lakukan selama KOTS kemarin tercatat sebagai amal baik dan diterima Allah Subhanahu Wa Ta'ala.


Melakukan tiga hal sekaligus: kajian, jualan dan beramah tamah dengan wali santri lain, membuat saya teringat dengan salah satu doa di rangkaian dzikir pagi,

"Ya Allah, sesungguhnya aku memohon kepadaMu ilmu yang bermanfaat, rezeki yang baik, dan amalan yang diterima."


Berjualan di momen kajian ditambah berkumpulnya para bunda di satu sesi yang terpisah dari ayah, tentu menghadirkan banyak cerita. Ditambah Istri yang selalu minta saya temani karena tidak bisa handle sendiri, (kecuali saat kajian berlangsung, sholat, dll) membuat saya lebih banyak ngumpul dengan para bunda dibanding dengan sesama ayah. 🤦‍♂️


Dan meski sudah berusaha jaga jarak, tapi masih tidak jauh-jauh dari kerumunan "emak-emak sholehah amazing" ini, kadang nggak tahan juga ikut nimbrung saat mereka bercanda.

Salah satunya saat istri saya menyerahkan salad ke salah seorang wali santri,

"mbak, mau bojo sampean tuku salad, iki jarene gae sampean"

Yang langsung disambut ciyee ciyee dari bunda lain di situ.


Saya pun nimpali, "beeuuh, suami qowwamah langsung praktekin ilmunya, rek"

Yang disambut senyum "sesejuk malam" dari sang bunda bersangkutan.


Malamnya pikiran saya menerawang. Saya pun kembali dilanda baper.

Teringat lagi dengan tiap sudut Kedai. Teringat lagi dengan rutinitas kajian yang biasa dilakukan disana. Teringat lagi dengan hal-hal baik yang ditunjukkan para wali santri sepanjang KOTS tadi. Teringat lagi dengan rumah Tegal Besar. Dan akhirnya teringat lagi dengan artikel yang pernah saya baca.


- Untuk bunda, yang saya lihat memasukkan uang infaq ke dalam kencleng dibalik kerudungnya...


Juga untuk bunda, yang menggratiskan produknya untuk oleh-oleh para tamu, meski dari panitia ada budget nya...


Tahukah anda, bumi di atas Kedai Sholeh berdiri, tempat dimana anda tadi berinfaq, dan tempat anda tadi berbisik-bisik dengan istri saya untuk menggratiskan produknya, kelak akan bersaksi atas keikhlasan anda?


- Untuk ayah, yang dua kali bolak balik Wuluhan-Jember demi membagi waktunya dengan jadwal lain...


Juga untuk bunda, yang datang ke kajian Ummahat di hari Jum'at, bersepeda motor dari Wuluhan, padahal tidak sewajib KOTS dan bisa live streaming...

Tahukah anda, bahwa istri saya terinspirasi oleh anda, wahai supermom's!


Dan tahukah anda, jalan sepanjang 30 km yang anda lalui dari rumah sampai Kedai Sholeh, kelak akan bersaksi atas semangat anda, wahai ayah bunda?


- Untuk ayah bunda yang datang ke KOTS, yang mau ikut lelah ambil bagian di acara ini, yang menyempatkan berbincang dengan sesama wali santri, yang menyempatkan membeli produk-produknya wali santri, yang kesemuanya ini demi ukhuwah...


Juga untuk ayah bunda yang datang ke KOTS, juga datang ke kajian Ummahat tiap Jum'at, dan juga datang ke Majelis Siroh tiap Ahad...


Tahukah anda, bumi di atas Kedai Sholeh berdiri, tempat dimana anda duduk menerima ilmu dan  berukhuwah, kelak akan bersaksi untuk anda, yang insya Allah memudahkan jalan anda ke SurgaNya?


- Untuk ayah bunda...pemilik Kedai Sholeh Juara...🥺 saya tidak tahu harus menulis apa.


Jazakumullah khair, barakallah fiikum.

Semoga Allah memudahkan segala urusan jenengan, pak... 🙏


Buyung Eko.

Wali santri, yang menulis di atas bumi Rambipuji.

Pernahkah ayah bunda membaca tulisan "dialog iman" yang ditulis & diposting oleh ustadz ustadzah di grup posku?

Insya Allah pernah ya.


Gambar dari https://parenting.dream.co.id/


Tulisan jujur dari ustadz ustadzah tersebut adalah hasil dialog langsung beliau-beliau dengan santri yang bersangkutan.


Jika kita yang membacanya saja sudah senang terharu, meski santri yang sedang diceritakan adalah bukan anak kita, apalagi dengan ustadz ustadzah yang berdialog langsung dengan santri tersebut. 


Melihat langsung anak didiknya tumbuh dalam keimanan, baik perbuatan maupun perkataan, adalah sebuah pencapaian, yang diistilahkan dengan "prestasi tak kasat mata".


Saya...yang bukan guru/ustadz...yang di Kuttab urusannya hanya seputar jualan, sebenarnya juga banyak menemukan dialog iman. Sama dengan para ustadz ustadzah di Kuttab, dialog tersebut saya dapat langsung dari santri yang bersangkutan.


Seringnya mengantar barang pesanan ke rumah ustadz/ah & wali santri membuat saya punya banyak kesempatan bertemu dengan para santri. Meskipun urusan saya dengan orangtuanya, -itupun hanya sebentar-, tapi tak jarang saya mendapat momen keimanan sang anak yang terjadi spontanitas.


Tapi ya begitu... Kadang ketika sudah sampai rumah, momen-momen yang saya dapatkan tadi tidak sempat tersimpan rapi dalam tulisan. Entah karena lelah, atau karena bantu istri ngurus si kecil. Akhirnya sebagian momen tersebut hilang terlupa lantaran kemampuan memory internal kepala saya menyusut dari 128 GB di masa muda, sekarang tinggal 500 MB saja. 🤦‍♂️


Di kesempatan ini, saya mohon izin untuk menuliskan kembali sebagian momen-momen tersebut yang masih teringat.

Hanya saja, berbeda dengan ustadz ustadzah yang tidak menyebutkan nama santri saat menuliskannya di grup posku, -tentu dengan berbagai pertimbangannya-, kali ini saya terang-terangan menyebut nama santri-santri tersebut.


Dan satu lagi... Ketahuilah ayah bunda semua, saya tidak berkecil hati ketika anak saya sendiri belum terlihat perilaku keimanannya saat bersama saya.

momen-momen seperti ini saya ceritakan kembali justru sebagai mood booster saya untuk lebih menaruh perhatian lagi dalam mendidik anak.

Momen-momen ini juga yang bisa mengembangkan senyum di wajah saya, yang paginya masih wajah nivea namun siangnya jadi wajah "nave-ya" (kenape ya?) karena bercampurnya keringat dengan partikel debu. 🙋🏿‍♂️

Dan momen-momen ini pula yang buat saya mencintai Bazaf, meskipun mengelolanya dan menumbuh kembangkannya tidak semudah itu, ferguso...


- Saya pernah ke rumah Bianca (qonuni 1), karena bundanya adalah salah satu supplier Bazaf. Sambil nunggu barang pesanan saya diambilkan, saya menemukan kardus bekas kurma yang ada tulisan si ananda.

Isinya? Dia menulis nama, alamat dan nama orangtuanya, lengkap dengan cita-citanya. 

Apa cita-citanya? Dokter penghafal Qur'an!

Saya tersenyum dan memakai kardus itu buat kipas-kipas, lalu berbisik menatap ke langit, "kabulkanlah ya Allah..."


- Saya pernah titip barang untuk bundanya Alifah di rumah ust. Weta. Saat itu bertepatan dengan jam pulang santri. Setelah para santri qonuni akhwat ber-salam-an dengan ust. Weta, lantas sang ustadzah menyuruh anak-anak didiknya tersebut untuk mengucapkan salam juga kepada saya. 

Salah satunya Sabrina.


Dengan kedua telapak tangannya yang saling menempel 🙏🏽 dan wajah yang malu-malu dia menyapa,

 "assalamu'alaikum pak buyung, bagaimana kabarnya hari ini? Semoga pak buyung dirahmati Allah"

Saya lupa kalimat persisnya. Tapi kira-kira begitu. 


Saya tersenyum sumringah melihat keberaniannya dan doa yang diucapkannya... dan spontan saya pun menjawab, "wa'alaikusalam, alhamdulillah, trima kasih ya, sayang".


Tapi segera saya ralat, "trima kasih ya nak".


Saya sampai lupa, kalau dia bukan anak saya. 🤦‍♂️


- Saya pernah mengantar pesanan bundanya Faqih (qonuni). Saat itu bertepatan dengan waktu sholat isya. Saya pun sholat di musholla dekat rumahnya. Saya dapati Faqih disitu, bahkan ayahnya yang jadi imam.


Setelah salam, saya clingak clinguk lihat Faqih sudah tidak ada, saya langsung berdiri untuk menyusul dia ke rumahnya.

Ternyata sang anak sedang sholat ba'diyah di belakang dekat pintu musholla.


Saya tersenyum. Kali ini senyum malu.

Seolah diingatkan... untuk tidak melupakan sunnah meski lagi sibuk urusan dunia.


- Dan momen terakhir, di Masjid Al-Ikhwan.

Saya datang untuk menemui Nizar. Sambil menunggu di luar masjid untuk mengambil barang titipan bundanya, saya lihat ada dua anak Kuttab Awal berlarian ke arah pintu dekat saya duduk, lalu menyapa saya, "ayahnya emiiiill"


Hehehe, kebahagiaan tersendiri bukan, bisa dikenal anak-anak santri?

Saya pun berdiri untuk menyapa mereka.


"Siapa namamu?

Kalau nggak salah dia menjawab Kio. Lalu saya tanya nama lengkapnya. Dia menjawab, tapi lagi-lagi, saya gagal mengingatnya. 🤦‍♂️


Ganti ke santri satunya, dan dia ini yang memanggil nama saya tadi.

"Siapa namamu?"

"Ahza"

"Nama lengkap mu?"

"Ahza Khaizuran Rabbani, Lc, MA"

Dia menjawab dengan jelas, tegas, tanpa ragu-ragu.


Ada yang belum mengerti dengan jawaban santri ini?

Dia menyebutkan namanya lengkap dengan gelar di belakangnya!


Saya menjawab "masya Allah" berkali-kali sambil kembali duduk.

Tak lama kemudian ayahnya datang, dan sempat berbincang dengan saya, lalu beliau pamit duluan.


Sambil memandang ayah-anak sholeh tersebut berjalan pulang, wajah "nave-ya" saya kembali tersenyum sambil bergumam dalam hati,

"ya Allah, tambahkan gelar DR di depan nama anak itu, kelak..."


Robbanaa hablanaa min azwaajinaa wa dzurriyyaatinaa qurrota a'yuniw waj 'alnaa lil muttaqiina imaamaa.


Buyung Eko.

Wali santri DR. Emil Saleh Pramudya, Lc, MA (aamiin)

02 Januari 2021

Saya masuk SMP tahun 1991, ketika presiden kita masih bapak Soeharto Rohimahullah, dan pecahan uang terbesar masih Rp 10.000.

Meski masa itu sudah berlalu tiga dekade, tapi cukup banyak pernak pernik generasi 90'an yang saya masih ingat sampai sekarang.

Salah satunya adalah buku diary.



Mungkin sama dengan remaja 90'an lainnya di Jember, saya yang saat itu bersekolah di Jakarta Timur sempat merasakan trend yang satu ini. 

Si pemilik buku diary akan memberikan bukunya ke teman-teman satu kelas, dan meminta mereka menulis apa saja.


Isi tulisannya bermacam-macam, tergantung yang menulis. Ada yang tulisannya agamis banget, ada kata-kata mutiara, lirik lagu, puisi, lucu-lucuan, sampai ada juga yang numpang curhat.


Agar terlihat gaul, tidak lupa tulisannya menggunakan kata/kalimat yang sedang nge-trend saat itu : kesian deh loe, oke deh kakak atau au ah gelap. 

Dan yang cukup aneh adalah gaya tulisan model begini : agakugu cigintaga kagamugu. 🤦‍♂️


Karena diary ini ditulisnya bergantian, berpindah dari satu anak ke anak lainnya, membuat kita bisa melihat dan membaca tulisan anak lain. Dari situ muncullah komentar, gosip sampai nyinyir.

Kalau diperhatikan, yaa...mirip-mirip facebook atau jejaring sosial lainnya saat ini lah. 


Saya sendiri belum pernah beli buku diary model begini. Tapi entah sudah berapa banyak tulisan saya yang mengisi buku diary teman-teman.

Saya membayangkan saat ini mereka membuka lagi buku diary mereka setelah 30 tahun, setidaknya mereka jadi ingat pernah punya teman bernama buyung. 

Dan meski mereka tidak punya foto/kontak saya saat ini, mereka masih bisa membayangkan, "tulisan si buyung ini keliatan ya kalau dulu anaknya culun". 🤦‍♂️


Sekitar akhir Juli lalu setelah berdiskusi dengan ust. Wiwit, pak Amri dan pak Yusuf,  saya diberi kesempatan untuk lebih menghidupkan Grup WA Bazaf ini dengan membuat tulisan. Dan alhamdulillah, tulisan yang sedang jenengan baca saat ini sudah yang ke-10.


Bukan. Ini bukan masalah jumlah. Sedikit atau banyak itu relatif. Tapi yang menjadi pertanyaan adalah apakah content nya sudah baik dan benar? apakah tulisan saya bisa memberi manfaat? Dan lagi-lagi...ini pun relatif. Mungkin jenengan yang lebih bisa menilai.


Ketika ust. Gilig memasukkan tulisan saya ke mediaalfatih.blogspot.com, terus terang saya merasa nggak PeDe. tulisan para ustadz ustadzah disana jauh lebih baik dari saya.


Tapi saya teringat lagi dengan buku diary tadi. Saya yang tidak punya diary, foto & kontak teman-teman SMP sama sekali, seperti blank kehilangan jejak masa lalu. Ditambah lagi saya sudah tidak bermain medsos lagi. Seolah-olah setelah SD saya langsung SMA. 🤦‍♂️


Itulah kenapa saya masih menyempatkan menulis, meski tulisan saya yaa pancet ngunu ae. Tapi saya berharap ini akan jadi jejak digital, yang bisa menjadi pengingat untuk semua.


Pengingat? Untuk apa?


Yaa...yang pasti pengingat untuk saya sendiri. Apa gunanya saya menulis & memposting kebaikan, kalau saya sendiri tidak melakukannya?


Dan jauh kedepannya...saya berharap tulisan saya bisa jadi pengingat untuk "anak-anak saya"...seluruh santri KAF Jember. ☺️

Apalagi sebagian dari mereka sudah ada yang siap masuk SMP (madrasah) tahun ini.


Saya membayangkan 30 tahun dari sekarang, ketika internet masih ada, ketika blog mediaalfatih masih bisa diakses, ketika anak-anak KAF tersebut insya Allah sudah jadi "orang", lantas mereka membaca tulisan saya... setidaknya mereka tahu dan ingat, pernah ada wali santri bernama pak buyung...yang menulis sesuatu untuk mereka.


Dan ini yang ingin saya sampaikan :


Untuk anak-anakku yang membaca tulisan ini entah berapa tahun dari sekarang...


Jika kalian baca tulisan-tulisan saya yang banyak memuji orangtua kalian, percayalah nak...itu jujur dari hati. Saya tahu, orangtua kalian sudah berusaha ikhlas menyembunyikannya. Tapi maaf, saya lihat ada peluang pahala disini.


Orangtua kalian yang berbuat baik, saya yang menceritakannya lagi lewat tulisan, lantas menjadi inspirasi wali santri lain dan mereka mengikutinya, bukankah saya dapat pahala? Lumayan kan jadi makelar pahala? Hehehe.


Untuk anak-anakku yang membaca tulisan ini entah berapa tahun dari sekarang...


Coba kalian cek apakah Kedai Sholeh Juara masih ada? Jika iya, sempatkanlah main kesana, nak...


Di sana bukan sekedar tempat makan dan bersantai. Dulu orangtua kalian pernah buka puasa bersama, sholat bersama dan aktif mengaji disitu.

Coba kalian duduk di area sisi timur, dan rasakan...disitu dulu bunda, umi, mama kalian mengaji kitab Syu'abul Iman sambil menunggu kalian pulang belajar.


Untuk anak-anakku yang membaca tulisan ini entah berapa tahun dari sekarang...


Apa kabar orangtua kalian saat ini? Jika mereka masih ada, jangan pernah berhenti berbakti kepada mereka ya nak...

Berikan kecupan hangat di kening mereka saat kalian berangkat kerja. Sebagaimana yang saya lihat mereka melakukannya saat mengantar kalian ke tempat kalian belajar.


Jika orangtua kalian saat ini sudah tidak ada, jangan pernah berhenti membaca istighfar untuk mereka ya... Kunjungi teman-temannya orangtua kalian, khususnya para wali santri KAF Jember.


Asal kalian tahu ya...mereka dulu sangat cepat responnya saat mendengar ada wali santri yang sakit, melahirkan, atau anggota keluarga yang meninggal, meski dengan wali santri yang anaknya tidak sekelas dengan kalian.


Untuk anak-anakku yang membaca tulisan ini entah berapa tahun dari sekarang...


Sudah berkunjung ke rumah ustadz ustadzah kalian, nak?


Hormati guru kalian sampai kapanpun yaa...meski saat ini mungkin ilmu kalian lebih banyak dari guru-guru kalian semasa di Kuttab. Sebagaimana orangtua kalian pun dulu sangat respek kepada mereka.


Sekarang kalian paham kan, kenapa ilmu kalian berkah hingga kalian bisa sholeh dan jadi "orang" seperti sekarang?


Jagalah adab & iman yang pernah ustadz ustadzah ajarkan kepada kalian, ya...

Saya berdoa, semoga kalian semua menjadi orang yang bertaqwa dimanapun kalian berada, sampai akhir hayat kalian".


Oh, satu lagi...

"Pagak Buguyugung cigintaga kagaligiyagan segemuguwaga."


Jember, 5 Januari 2021.

Yang biasa mengantar barang pesanan orang tua kalian.


Ayahnya Emil Saleh KA3C

12 November 2020

Tepat setahun yang lalu saya dan istri memulai petualangan "tinggal di kota". Kami tinggal di sebuah rumah dua lantai, yang mana lantai duanya adalah kos-kosan putri. Rumah yang berada di Perumahan Jember Permai Satu tersebut -biasa dikenal dengan Perumahan Semeru-, milik salah satu guru di SD Islam swasta di daerah Pakem, yang mana istri saya pernah mengajar disitu.



Foto-foto waktu MAQOM 2



Berjalan sekian pekan, saya baru tau ternyata saya bertetanggaan dengan pak Henry, ketua Posku saat itu. Rumah beliau hanya berjarak dua blok dari rumah kami. Dan beberapa kali saya bertemu saat sholat di Masjid persis depan rumah yang saya tempati tersebut.


Mungkin, dengan pertimbangan memudahkan kordinasi karena tinggal di perumahan yang sama, akhirnya pak Henry menunjuk saya sebagai salah satu panitia dalam Mabit Qowamah (Maqom) edisi pertama.


Tapi... Saya kabur-kaburan, dan akhirnya pamit dari kepanitiaan lewat pak Sony. (Afwan njeh pak Henry, baru minta maaf sekarang).

🙏🤭🤦‍♂️


Iya, sampai hari itu saya adalah makhluk yang gemar bersendirian. Kalaupun datang ke sebuah acara, entah undangan resepsi ataupun kajian, pokok selesai, langsung pulang!


Bahkan di rumah, saya punya tempat khusus untuk menyendiri, dan waktu yang khusus pula. Istri dan anak-anak saya sudah paham dengan ini.


Semua berubah ketika istri saya ditunjuk untuk mengurus Bazaf, yang kemudian saya menyusul untuk ikut membantu.


Bertemu langsung dengan santri, wali santri, ustadz ustadzah di rumah mereka masing-masing, dan melihat cara mereka berinteraksi membuka mata saya, bahwa label "hijrah" yang saya klaim hanyalah omong kosong!


Alhamdulillah saya tau beberapa ilmu agama. Hal tersebut saya dapat dari datang ke kajian, baca artikel, sampai nyimak kajian kitab dari beberapa Ustadz di youtube. Tapi... hanya 1 - 2 yang bisa saya praktekan. 

Selebihnya? Angel pak, angel!! Saya masih kesulitan menundukkan hawa nafsu saya.


Sejak saya terbiasa bertemu dengan keluarga besar KAF Jember, melihat dari dekat keseharian mereka, berkumpul dengan mereka, dan bahkan pernah juga jalan-jalan bareng dengan mereka...

saya seolah-olah sedang diajari, "gini lho pak buyung perilaku orang yang hijrah... gini lho perilaku seorang muslim yang baik".


Dan memang, sedikit-sedikit perilaku saya bisa berubah. Setidaknya, sudah tidak ada tempat dan waktu khusus untuk menyendiri.


Kadang untuk menjadi baik, yang saya butuhkan tidak sekedar ilmu dan nasehat. Kadang yang saya butuhkan adalah melihat dan mencontoh. Karena ternyata orang-orang baik tersebut tidak hanya ada di dalam buku-buku nasihat, tapi ada di sekitar saya, berinteraksi dengan saya, sehingga mudah untuk ditiru. 


Itulah kenapa, ketika Ust. Wiwit memberi kesempatan saya untuk menulis di Grup WA Bazaf langsung saya iyain. Kemampuan menulis saya sebenarnya standar banget, itu bisa dilihat dari tulisan-tulisan saya yang tidak ilmiah-ilmiah banget, hanya sekedar bercerita pengalaman saya sehari-hari bertemu dengan keluarga besar KAF Jember.

Tapi...sementara memang hanya ini kebaikan yang bisa saya berikan. Berharap dengan tulisan-tulisan saya, ada yang terinspirasi untuk jadi lebih baik, sebagaimana saya pernah merasakan sebelumnya.

Dan saya juga berharap... suatu saat bisa naik level seperti wali santri lain yang level kebaikannya sudah berbentuk materi untuk membantu Kuttab, seperti yang saya lihat di grup Posku kemarin. 

🥺🤲



Dua hari yang lalu, saya bertemu pak Aziz (ketua Posku) di rumahnya, saat mengantar barang pesanan nyonya ketua.

"Pak buyung, nanti bisa hadir kan rapat Maqom di kedai?" tanya beliau sambil bersiap-siap berangkat sholat ashar.

"Insya Allah bisa pak", jawab saya.


Dan...qodarullah, maghrib nya motor saya mogok. 🤦‍♂️


Tapi percayalah pak ketua, jika tidak ada aral melintang, insya Allah saya hadir Maqom edisi ke-2 ini.


Saya selalu menunggu kejutan, "kebaikan apa lagi ya yang bisa saya contoh dari mereka?"


Untuk para wali santri lain, kita bertemu disana yaaa 🙋‍♂️



Buyung Eko.

Peserta Mabit Qowamah 2 KAF Jember

09 September 2020

Selama kita hidup sampai hari ini, entah sudah berapa banyak orang yang bertemu dan berinteraksi dengan kita. 

Sebagian ada yang sekedar berlalu, seperti ; orang yang memberi bantuan saat kendaraan kita mogok di tengah jalan.

Sebagian lagi ada yang "nempel" dan ikut mempengaruhi karakter & perilaku kita, seperti ; pasangan kita, yang tadinya adalah orang lain, kini jadi partner kita dalam berfikir dan bertindak.

Kita tidak pernah tau akan bertemu siapa, dan apa dampaknya bagi kita. Ini bagian dari takdir.



Begitupun antara saya dengan Bazaf...


Saya pernah kecanduan medsos (media sosial). Dulu saat menjalaninya biasa saja kaya nggak ada apa-apa. Tapi belakangan saya baru tau kalau yang saya alami ini ternyata ada nama penyakitnya. Social Media Anxiety Disorder, Fear of Missing Out, dan masih ada beberapa nama lain yang agak sulit dibaca lidah saya.


Semua bermula di tahun 2009 ketika saya mulai berkenalan dengan facebook, yang disusul kemudian dengan twitter, foursquare, whatsapp, instagram, path, dan yang lain-lain.

Bisa bertemu lagi dengan teman-teman lama yang lost contact, dan bisa berinteraksi dengan mereka secara bersamaan melalui aplikasi-aplikasi tersebut di hp membuat saya sumringah. 

Namun kegembiraan itu hanya sebentar, karena tidak lama kemudian saya merasa aplikasi-aplikasi medsos ini berubah menjadi "med-show" alias media ajang unjuk diri. 

Semua aktivitas sehari-hari sampai hal-hal yang bersifat pribadi diposting jadi status, baik berupa tulisan maupun foto selfie.


Memang tidak semua teman saya begitu. Sebagian mereka ada yang smart menggunakannya untuk berbisnis, berbagi informasi ataupun berdakwah. Sayangnya...saya terseret ke dalam golongan yang med-show tadi.


Alhasil, jangankan untuk bermuhasabah, membentuk keluarga yang sakinah, atau berinovasi dalam bekerja...isi kepala saya saat itu nggak jauh-jauh dari beranda/timeline & update status, yang tanpa disadari mempengaruhi perilaku saya. Apapun yang saya posting berharap like & comment. Dan saya sering mensetting aktivitas saya baik sendiri maupun bersama keluarga agar terlihat sempurna saat foto selfie, meski kenyataan "tidak seindah foto aslinya".


Pernah lihat orang yang sering gagal fokus, melamun, menyendiri, hp selalu digenggam, sedikit-sedikit buka hp & mata terus ke layar hp meski lagi ngobrol sama orang? kira-kira begitulah saya saat itu.


Lima tahun berjalan, saya dibuat uring-uringan dengan hp kesayangan yang harus dijual. Berikutnya bolak balik beli hp, baik second atau baru, harus terima kenyataan ; kalo nggak rusak, atau hilang. Dan entah kenapa sejak saat itu sampai hari ini saya tidak pernah lagi bisa beli hp yang "normal", apalagi canggih.

Sekarang saya baru sadar, mungkin ini terapi dari Allah untuk "kesembuhan" saya. Namun ternyata hal itu masih belum cukup. Saat sakaw itu datang, warnet jadi tempat pelarian. Bahkan pakai hp batang (candybar) pun jadi, yang penting masih bisa berjejaring sosial.


Hidayah berikutnya datang. Allah gerakkan hati saya untuk mau duduk kembali di majelis ilmu. Dimulai dari kajian ahad pagi di sebuah kampus di selatan Kota Jember. Perlahan saya mulai lupa dengan asyiknya medsos, sampai akhirnya memutuskan untuk menghapus seluruh akun jejaring sosial saya, kecuali whatsapp.

Tapi ternyata ini pun masih belum cukup. Perilaku saya yang suka menyendiri dan mood yang sering naik turun, membuat semangat belajar agama dan beribadah masih sering ngedrop, yang kata pak ustadz istilahnya ; futur.

Saat futur itu datang, kambuh lagi penyakit saya untuk menghabiskan waktu di internet, meski bukan berjejaring sosial.


Lagi-lagi Allah bantu saya dengan cara-Nya.


Sejak saya membantu Bazaf sebagai pengantar barang, lumayan banyak rumah ustadz/ah & wali santri yang pernah saya datangi.

Ada banyak pemandangan ketika bertemu mereka di rumahnya, yang bagi saya luar biasa. Membuat saya malu sekaligus termotivasi.


Saya pernah bertemu dengan dua wali santri yang sedang asyik membaca Al-qur'an, yang satu sambil jaga warung, yang satu sambil santai di gazebo depan rumahnya.

Setelah pamit saya terdiam di atas motor saya. Teringat lagi saat dulu saya duduk dengan khusyuk membaca status & comment, di samping Al-Quran Tarjamah Tafsiriyah pemberian bos saya yang masih mulus dari sidik jari saya.


Saya juga pernah bertemu dengan ayah santri yang sedang momong anak-anaknya yang masih kecil sambil membaca sesuatu dengan lirih. Dugaan saya beliau sedang menghafal atau berdzikir. 

Juga ayah yang membaca Al-Qur'an bersama anaknya di siang hari yang sepi di perumahannya. 

Dan ada juga yang sibuk mencari anaknya ketika waktu sholat tidak terlihat di Masjid.

Pulang dari sana saya terdiam di atas motor saya. Teringat lagi banyaknya quality time bersama anak yang terbuang. Hanya sekedar selfie 5 menit bersama mereka, setelah itu sibuk sendiri berjam-jam men-setting foto agar saya terlihat seperti ayah yang sempurna.


Saya juga pernah bertemu wali santri yang belanja banyak di Bazaf dengan selang waktu berdekatan. Dan ada juga yang beli satu jenis barang tapi dalam jumlah yang banyak. Mudah ditebak ; ini sebagiannya pasti buat sedekah. 

Bukan sekali dua kali atau nunggu momen tertentu. Mereka bersedekah sesuka hati mereka kapanpun mereka mau!

Saya yakin, ini bukan karena mereka mampu, karena setau saya sedekah itu masalah mental, dengan apapun yang mereka punya dan berapapun jumlahnya.

Saya teringat lagi dengan mental saya dulu. Mudahnya mengeluarkan ratusan ribu tiap bulan untuk beli paketan, tapi cuma say hello sama pengemis & kotak amal di Masjid.


Mereka yang saya sebutkan di atas, mungkin tidak pernah memposting kegiatan & kebaikan mereka ini di medsos.

Tapi ternyata, justru Allah yang memposting potret keseharian mereka tepat di depan mata saya.

Semuanya real, tanpa settingan, karena semua dilakukan di rumahnya masing-masing. Jauh dari like & comment.

Ini yang membuat saya malu, sekaligus termotivasi saat futur itu datang.


Terima kasih ayah bunda sholeh/ah. Barakallah fiikum.

Saya bersyukur ditakdirkan bisa bertemu dan berinteraksi dengan panjenengan semua.

Tidak sekedar berlalu, tapi "nempel" dan ikut mengubah perilaku saya.

Tetaplah istiqomah. Tetaplah menjadi contoh yang baik untuk saya.


Buat saya Bazaf adalah medsos.

Dan saya adalah follower anda!


Robbanaa laa tuzigh quluubanaa ba'da idz hadaytanaa wahablanaa mil ladunka rohmatan innaka antal wahhaab.


Buyung Eko.

Follower KAF Jember.

30 Agustus 2020

Dulu, alhamdulillah Allah kasih kelapangan rizki, keluarga saya punya rumah yang cukup luas di Jakarta. Selain saudara-saudara yang diajak tinggal bareng di sana, sebagian kamar lainnya disewakan alias jadi kos-kosan.


Banyak cerita selama rumah kami jadi kos-kosan. 

Mulai dari masalah klasik ; ada yang nunggak beberapa bulan, sekalinya bayar ngicrit-ngicrit. 

Ada juga yang lancar bayarnya, tapi pemakaian air & listriknya lebih besar dari harga sewa kosnya. 

Sampai masalah seringnya makanan di dapur & kulkas ada yang ngambil, dan hilangnya mesti saat tengah malam.

 

Lagi diminta mbikin video Bazaf

Melihat "fenomena" ini ibu saya hanya diam saja, dan tidak berusaha untuk ngadu ke bapak saya. Bahkan meski tau kelakuan anak-anak kosnya, beliau kadang masih ngajak mereka makan bareng kalau kebetulan lagi banyak makanan.

(Semoga Allah memberkahi ibu saya di masa tua-nya sekarang hingga husnul khatimah kelak.)


Dua dekade berlalu, saudara & anak-anak kos ini sekarang sudah jadi "orang". Setidaknya hidup mereka sudah mapan, bahkan lebih mapan dari ibu saya. Entah dari mana mereka dapat nomer hp ibu saya, yang jelas satu persatu mereka hadir kembali menyapa ibu saya, meski lokasi mereka nun jauh disana. 


Setiap mereka telepon untuk berterima kasih, ibu saya malah sungkan. Beliau  merasa apa yang dilakukannya dulu biasa saja & tidak punya andil apa-apa dengan kesuksesan mereka sekarang.

Yang beliau kasih cuma kelonggaran bayar kos & membiarkan mereka "nyolong" makanan di saat mereka lapar, nggak ada uang dan sungkan untuk meminta.

Buat ibu saya nilainya mungkin nggak seberapa, tapi buat mereka itu sangat membantu mereka untuk bisa bertahan hidup hingga akhirnya lulus kuliah. Mereka merasa itu bagian dari kesuksesan yang mereka raih sekarang.

Namun Ibu saya tetap rendah hati. Seolah-olah beliau pingin bilang, "ya sudah lah, cukup Allah saja yang tau antara aku, kau dan isi kulkas yang kau ambil dulu".


Saya yakin banyak diantara kita mengalami hal yang sama dengan ibu saya ; memberikan sesuatu atau melakukan sesuatu yang kita anggap sepele untuk orang lain, namun ada efek baik untuk orang tersebut di masa depannya.


Dan saya pun teringat Bazaf.


Siapapun yang membeli sesuatu di Bazaf, (beli bumbu halawa misalnya) sebagian labanya diinfaqkan ke Kuttab. 

Meski mungkin dari laba tersebut setelah diakumulasi dengan laba lainnya nilainya hanya sedikit dan hanya cukup untuk beli sapu atau keset, bukankah sudah punya andil dalam memberikan kenyamanan belajar anak-anak kita di Kuttab? 

Bukankah Nabi Shallallahu 'Alaihi Wassalam memerintahkan kita untuk tidak meremehkan kebaikan sekecil apapun itu?


Bukan tidak mungkin kelak diantara anak kita di KAF Jember ada yang jadi Ulama pengisi Majlis di Masjid Nabawi sebagaimana ust. Firanda & Ust. Abdullah Roy. 

Saat itu kita mungkin lupa dengan sumbangsih kecil kita untuk mereka berupa belanja di Bazaf yang labanya diinfaqkan untuk sekolah mereka. 

Tapi kalaupun kita ingat, mungkin kita hanya berkata dalam hati, "barakallah fiik nak, cukup Allah saja yang tau antara aku, kau dan bumbu halawa yang pernah aku beli di bazaf dulu".


Bukan hanya Bazaf sebenarnya, ada pula PT. Ayo Kurban. 

Siapapun yang beli hewan untuk kurban/aqiqah disini, sebagian keuntungannya juga diinfaqkan ke Kuttab. 

Bukan tidak mungkin, suatu hari nanti di rumah sakit kita bertemu dokter yang terlihat sedang me-murojaah hafalan qur'annya, dan ternyata dia salah satu dari anak kita alumni KAF Jember.

Saat itu mungkin kita lupa dengan sumbangsih kecil kita untuk mereka berupa pembelian hewan qurban yang labanya diinfaqkan untuk sekolah mereka. 

Kalaupun kita ingat, mungkin kita hanya berkata dalam hati, "barakallah fiik nak, cukup Allah saja yang tau antara aku, kau dan domba klasik E bobot 30 kg yang pernah aku beli dulu".


Serupa dengan kedua bidang usaha sebelumnya, begitupun dengan Kedai Sholeh Juara. Siapapun yang makan disini, (menu "lele terbang ke bulan" misalnya) sebagian keuntungannya juga diinfaqkan ke Kuttab. 

Bukan tidak mungkin, suatu hari nanti kita bertemu Project Manager pembangunan sebuah gedung pencakar langit, yang sedang mengawasi anak buahnya sambil berdzikir dengan ruas jarinya, dan ternyata dia salah satu dari anak kita alumni KAF Jember.

Saat itu kita mungkin lupa sumbangsih kecil untuk mereka berupa makan di kedai yang labanya diinfaqkan untuk sekolah mereka. 

Kalaupun kita ingat, mungkin kita hanya berkata dalam hati, "barakallah fiik nak, cukup Allah saja yang tau antara aku, kau dan lele..."


Sek sek, sebentar... Kenapa namanya "lele terbang ke bulan" ya? 

Ada yang sudah pernah tanya ke chef-nya?

 

Barakallah fiikum semuanya.


Buyung Eko.

Wali santri yang ikut mendoakan seluruh santri KAF Jember.

Kalau ada pertanyaan, "apakah anda cinta dunia?" 

Mungkin sebagian orang ada yang jawab iya, ada yang tidak.

Tapi kalau pertanyaannya, "apakah anda cinta discount, obral & harga murah?" 

Saya yakin jumhur manusia akan menjawab iya. 🤭

 

Penulis menjadi MC pada Kajian Ayah. Paling kanan.

Yah begitulah, harga murah itu memang sesuatu yang mempesona. 

Yang tadinya nggak niat beli, bisa berubah pikiran jadi beli. 

Bahkan harga murah bisa bikin kita bela-belain menempuh jarak sekian kilometer untuk membeli sesuatu yang sebenarnya tersedia di warung depan mata kita.


Jujur, saya pun begitu. 

Setiap ingin membeli sesuatu, saya rela berlelah-lelah ria untuk berpindah dari satu outlet ke outlet lainnya sekedar untuk membandingkan harga. 

Kalau sudah begitu biasanya otak saya berjalan dengan cepat seperti angka-angka di stop watch lomba balap lari. 

Barulah setelah itu saya putuskan membeli yang mana.


Sampai suatu hari...


Beberapa tahun lalu saat istri lagi belajar jualan online, masih belum banyak supplier yang dia kenal. Akhirnya dia jual barang yang ada dulu. 

Tapi ya gitu, saat dia posting produknya di grup WA, barang jualannya ini kadang kalah bagus atau kalah harga dibanding reseller lainnya. 

Lantas apakah Ada yang beli? Ternyata ada ; Temen akrabnya sendiri.

Saat kami antar barang tersebut ke rumahnya, saya lihat istri dan temennya ini malah bercanda ria kaya lagi reunian.


Pernah juga kami belajar bikin sebuah makanan. Meski masih nggak PD dengan rasanya, kami tetap nekat posting makanan tersebut di status WA. 

Apakah ada yang japri? Alhamdulillah Ada ; temennya istri yang lainnya lagi. 

Dia pesan untuk konsumsi acara di sekolahnya. Padahal kami tau, ada temen lain yang sudah dikenal jualan makanan yang sama dengan kami, dan bisa ngasih harga lebih murah karena usahanya sudah jalan.

Setelah acaranya selesai, kami menemui temen yang pesan tersebut untuk nagih pembayarannya, lagi-lagi saya lihat istri dan temennya ini malah asyik ngobrol kangen-kangenan.


Saya pun penasaran, Kenapa temen-temennya istri ini mau beli jualan kami ya? 

Bukankah mereka juga ibu-ibu yang harusnya penuh perhitungan demi stabilitas keuangan rumah tangganya? 

Bukankah mereka harusnya lebih memilih makanan yang rasanya sudah pasti & lebih murah demi reputasi di tempat kerjanya? 


Setelah saya perhatikan cara mereka saat menyambut istri saya...

mungkin dengan cara ini mereka masih bisa menjalin pertemanan dengan istri saya yang sudah berjalan tahunan. 

Mungkin dengan cara ini mereka masih bisa bertemu langsung di dunia nyata dengan istri saya di sela-sela kesibukan & rutinitas mereka di rumah masing-masing.


Ya...ada hal lain yang lebih mereka utamakan dibanding mengejar harga murah. 

Pertemanan memang tidak bisa dikasih label harga...apalagi di discount.


Kebiasaan saya untuk mencari harga murah masih belum hilang. Cuma sekarang saya sudah sedikit paham, kapan waktunya nyari harga murah & kapan waktunya nyari maslahat.


Untuk kebutuhan sehari-hari, kami cukup beli di warung depan rumah saja, yang bila dilihat isi etalasenya seperti warung yang "hidup segan mati tak mau". 


Setelah dari pagi sampai malam saya sudah disibukkan dengan jualan dan ngurus anak, mungkin dengan cara ini saya masih bisa menyapa dan ngobrol dengan tetangga ini, orang terdekat yang ikut menjaga keluarga saya saat saya sedang tidak di rumah.


Untuk barang kebutuhan lain yang ndak ada di warung tersebut, kami beli di Bazaf. Bagaimana dengan harganya? Sama saja, kadang beberapa barang sedikit lebih mahal dibanding tempat lainnya. 


Tapi...mungkin dengan cara ini saya bisa punya ikatan bathin dengan wali santri lain, yang mana anak-anak mereka sehari-harinya ngumpul sama anak saya di sekolah ini.


Mungkin dengan cara ini, saya bisa belanja sambil berinfaq. Ikut berkontribusi untuk kuttab meski nilainya hanya seujung kuku.


Dan...mungkin dengan cara ini, salah satu bentuk terima kasih saya buat lembaga yang dengan ikhlas sudah susah payah mendidik anak saya... 

yang terbukti saat "belajar di rumah" selama pandemi, meski sudah berusaha susah payah juga, ternyata kami tidak sanggup, bahkan hanya sekedar untuk menjaga adab dan hafalan anak saya, yang sudah didapatnya susah payah dari Kuttab.


Semoga Allah menjaga hati dan keikhlasan kita semua.


Buyung Eko.

Wali santri & konsumen Bazaf.

Sejak Kepala KAF Jember meneruskan arahan dari pusat untuk menghentikan sementara KBM (Kegiatan Belajar Mengajar) di sekolah dan memulai program "belajar dari rumah" sekitar maret lalu, istri saya (Admin Bazaf) latah ikut membuat program "belanja dari rumah". 

Tujuannya agar KBM (Kegiatan Berjualan Macam-macam) milik Bazaf bisa tetap eksis. 🤭

 

Difotoin pak Ustadz

Untuk mewujudkan programnya, akhirnya beliau (si Admin Bazaf) ini menempuh dua langkah:

1. Memberlakukan sistem pesan antar (delivery), dan memboyong seluruh barang dagangan dari gedung Kuttab ke tempat tinggal kami di Tegal Besar untuk memudahkan pengiriman.

2. Secara sepihak mengangkat saya sebagai pengantar barang (kurir).


Mendapat tugas baru sebagai partner kerja di Bazaf (selain partner kerja di rumah), saya sih enjoy aja. Toh tugas mengantar barang ini bisa searah jalan dengan profesi saya yang juga berjualan keliling. 

Tapi selama menjalankan tugas ini, ada satu hal yang membuat saya merasa agak-agak gimanaaa gitu.


Setiap akhir bulan, istri saya merekap & menghitung ; "piro sih total batine dodolan bazaf iki"... atau dalam bahasa admin ; tutup buku.

Setelah laba berhasil dihitung, ada sebagian yang diwakafkan (ta'awun) untuk Kuttab. Lantas uang ta'awun itu dimasukkan ke dalam amplop dan saya yang disuruh ngantar ke Ust. Ina (Admin Kuttab).


Nah...saat mengantar amplop ini yang bikin saya mbathin ;

"Masya Allah keluarga besar Kuttab ini ya, bahkan untuk urusan jual beli kebutuhan sehari-hari pun mereka masih mengejar pahala jariyah". 


Yaa...dengan laba yang diwakafkan ke Kuttab, mereka berusaha mendapatkan pahala yang bisa terus mengalir meski kita sudah di alam kubur. 

Dan...saya bersyukur bisa ikut ambil bagian di situ.


Setiap saya mengantar barang pesanan pembeli, saya merasa seperti sedang menjemput amal sholeh orang-orang tersebut. 

Dan saat mereka membayar, seolah-olah saya sedang menyerahkan pahala jariyah tersebut kepada pemiliknya.


Sampai saat ini, secara nominal, memang masih belum banyak jumlah uang yang berhasil Bazaf ta'awunkan untuk Kuttab setiap bulannya. Namun tak patah asa dan tak putus doa, semoga Bazaf terus tumbuh, berkembang dan berbuah, hingga bisa terus berkontribusi untuk Kuttab.


Dan untuk saya pribadi, berharap kelak ketika Allah Ta'ala menimbang seluruh pahala keluarga besar Kuttab tersebut di Mizan, saya bisa berkata...

"Ya Allah, itu dulu saya yang ngantar."


Semoga Allah memberkahi kita semua.


Buyung Eko

"Pengantar pahala" Bazaf Jember.

Mengenal Kuttab

Kuttab ialah Lembaga pendidikan anak-anak usia 5 – 12 tahun yang mulai diaplikasikan sejak bulan Juni 2012, yang kurikulumnya menitik beratkan pada Iman dan Al-Qur’an. Kurikulum yang dirumuskan dalam diskusi rutin sejak 5 tahun silam dan dijadikan modul-modul panduan dalam pembelajaran. Lembaga yang menggali kurikulumnya dari kitab-kitab para ulama berlandaskan Al-Qur’an dan Assunah. Lembaga Pendidikan yang memprioritaskan tahapan pendidikan.


Konsep kuttab bukanlah hal yang baru, hanya sudah terlalu lama sejarah peradaban ini terbenam oleh debu-debu zaman. Al-Fatih berusaha untuk mengawali membuka kembali lembaran – lembaran sejarah itu yang terlipat. Maka lahirlah di tahun 2012, bermodal keyakinan berharap kebesaran.

POSKU

Blog ini dikelola oleh Persatuan Orangtua Santri Kuttab (POSKU) Al-fatih Jember

Kontak kami

Address: Jl. Kartini 52 Jember (Depan Upnormal) | Telp: (Penanggung Jawab) 0895-362-303030 / 0822-3376-9000

Denah

Denah
Klik kanan > Open image in new tab