Tampilkan postingan dengan label Gilig Pradhana. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Gilig Pradhana. Tampilkan semua postingan

20 Juli 2021

Oleh: Gilig Pradhana 

"Ceritakanlah kepada mereka kisah kedua putera Adam (Habil dan Qabil) menurut yang sebenarnya, ketika keduanya mempersembahkan korban, maka diterima dari salah seorang dari mereka berdua (Habil) dan tidak diterima dari yang lain (Qabil). Ia berkata (Qabil): "Aku pasti membunuhmu!". Berkata Habil: "Sesungguhnya Allah hanya menerima (korban) dari orang-orang yang bertakwa".

 

Salah satu domba gemuk di peternakan AyoKurban dari Wuluhan Jember. Dijual melalui https://kurbaninaja.id/

Sebuah ayat dari Al-Qur'an surat Al-Maidah ayat 27 mengisahkan tentang dua macam pengurbanan, bukan tentang bentuknya, melainkan tentang kualitasnya.

 

Habil mencontohkan kurban yang terbaik, sedangkan Qabil justru memilih yang terburuk. Keduanya memang sama-sama berkurban, tapi ternyata tidak semua kurban diterima.

 

Apakah Kurban Kita Akan Diterima

 

Itulah yang harus menjadi pertimbangan saat kita memilih kurban. Dan ini bukan hanya di momen spesial, melainkan dalam keseharian kita.

 

Tatkala kita mendengar panggilan adzan, apakah kita akan memenuhinya dengan bersegera sholat atau bersantai-santai hingga ke ujung iqomah?

 

Saat kita melihat saudara semuslim membutuhkan bantuan, akankah kita membagi rizqi baik yang kita nikmati atau merogoh recehan di lipatan dompet?

 

Di kala berseteru dengan sahabat, apakah kita yang akan datang mendahului mencari keridhoan atau menunggu-nunggu di rumah menganggap diri selalu benar dan yang lain selalu salah?

 

Kita memiliki "ismail" dalam diri kita masing-masing.

 

Ada yang merasa berat dengan keluarganya, sangat mencintai istrinya, gemar menghitung hartanya, membangga-banggakan pekerjaannya, enggan berpisah dengan HP nya, semua kecintaan itu akan menjadi salah satu ujian yang akan diambil oleh Allah untuk melihat mana yang lebih dicintai; apakah Tuhan ataukah karunia-Nya?

 

Kurban Pilihan Para Nabi

 

Setiap kali diberikan pilihan beramal, para Nabi selalu memilih yang terbaik. Domba kurban Nabi Muhammad sholallahu ‘alayhi wa salam adalah yang gemuk. Namun tidak hanya dalam masalah hewan, Nabi Musa alayhi salam ketika diberi pilihan apakah memberikan mahar berupa bekerja 8 tahun ataukah 10 tahun, beliau memilih yang sempurna, yakni 10 tahun.

 

Ketika Allah memerintahkan Nabi Musa 'alayhissalam untuk memilih 70 orang terbaik di antara Bani Israil, kemudian ia (Musa) memanggil mereka agar menghadap-Nya untuk bermunajat dan menerima Taurat,  maka Nabi Musa 'alayhissalam bersegera memenuhi panggilan-Nya.

 

Karena cinta dan rindunya kepada Rabb-Nya, Nabi Musa 'alayhissalam meninggalkan kaumnya di belakang.

 

Maka, ketika telah sampai, Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman kepadanya:

 

وَمَا اَعْجَلَكَ عَنْ قَوْمِكَ يَا مُوسَى  ِ قَالَ هُمْ أُلئِي عَلَى أَثَرِي وَ عَجِلْتُ إِلَيْكَ رَبِّ لِتَرْضَى

 

"Mengapa engkau datang lebih cepat dari kaummu wahai Musa ?" Musa menjawab: "Mereka sedang menyusul aku dan aku bersegera kepada Mu, wahai Rabb ku agar Engkau ridha kepadaku."

 

Kesempurnaan beramal inilah yang harus kita jadikan semangat, sebagaimana ayat “Fastabiqul Khoirot” (QS Al-baqarah 148), berlomba-lomba dalam kebaikan. Tentunya bila orang sedang berlomba, dia selalu berusaha menjadi yang nomor satu. Untuk itu tenaga yang dikerahkan akan sekuatnya, di ujung batas tertinggi, dan itulah maksud dari “semampunya”.

 

Balasan Kebaikan

 

Hari ini adalah hari yang sangat baik untuk memulai perlombaan itu. Marilah kita pacu diri dengan imbalan Allah atas amal sholih kita.

 

Ibunda Hajar alaiha salam, dalam terik panas kehausan, berlari dari Shofa ke Marwa bolak-balik demi mendapatkan tanda-tanda kehidupan kemudian di puncaknya diganjar Allah dengan zam-zam, yang penuh berkah tidak hanya buat sang ibu dan anak, bahkan untuk miliaran umat Islam di sepanjang zaman. Lahirlah syariat “sa’i” yang diikuti para jamaah haji dari tahun ke tahun meniru apa yang dilakukannya. Pahala para jamaah itu mengalir kepada ibunda Hajar, satu per satu, terus mengalir hingga entah kapan.

 

Ayah dan anak, nabi Ibrahim dan nabi Ismail alayhuma salam, berkurban nyawa, sebuah pengurbanan yang paling berat dalam sepanjang sejarah manusia. Dan perintah itu ditunaikan dengan sempurna, kemudian diganjar Allah dengan domba yang besar, kemudian lahirlah syariat berkurban yang diikuti pula oleh kaum Muslimin sepanjang zaman. Setiap ampunan yang dianugerahkan kepada setiap bulu hewan kurban, mengalir pula untuk sang teladan.

 

Maka marilah berkurban…

 

Mungkin dari berkurban waktu tidur kita di malam hari, untuk bangun sholat tahajjud… barangkali akan menjadi teladan bagi anak cucu kita, yang pahalanya Allah alirkan juga kepada kita.

 

Bisa juga dari kebiasaan kita bersusah-payah mengumpulkan keluarga di waktu maghrib, untuk mengajarkan mereka Al-Qur’an… mungkin akan menjadi inspirasi, di antara anak cucu kita ada yang menjadi guru mengaji, dosen bahasa Arab, ulama tafsir yang mengajar ummat, kemudian Allah perkenankan pahala-pahala mereka abadi untuk kita.

 

Kurban apa pun itu, niatkanlah ikhlas untuk Allah, dan berikanlah yang terbaik, bukan yang asal-asalan. Karena kalau Allah ridho… balasannya akan jauuuh… lebih baik dari apa yang telah kita kurbankan.

 Ya Allah bimbinglah kami...

Wallahu a’lam bish showab.

03 Juli 2021

Di rumah orang tua mendidik agar anak patuh kepada guru. Dan di sekolah guru mendidik agar murid berbakti kepada kedua orangtuanya. Pendidikan yang saling melengkapi.







Orang tua harus menjaga izzah guru di hadapan anak. Demikian pula guru harus menjaga izzah orang tua di mata santri. Kali ini mari kita bahas sedikit lebih fokus kepada peran guru, namun bukan terhadap murid, melainkan peran guru terhadap orang tua murid. 


Memang sudah tugas guru mendidik muridnya. 

Namun jikalau guru berhasil menyentuh sang ayah... 

Maka betapa dahsyat muridnya kelak!

Karena ia akan memiliki dua guru, di sekolah dan di rumah

Karena ayah bemakna teladan, kasih sayang, dan doa


Maka para guru...

Ajaklah ayah berbicara tentang anak

Barangkali, sudah lama tidak ada lagi yang mengajak mereka berbicara

Dunia sudah menganggap mereka "seharusnya tahu" semuanya


Bayangkan betapa besar dan beratnya peran orang tua. Kita meng-angka-kan hingga mencapai 60% bagian pengaruhnya terhadap anak. Artinya, kalau orang tua mengantarkan anak ke sekolah dengan kondisi sudah terisi 60% itu, maka alangkah mudahnya tugas guru, yang hanya menyelesaikan 20% sisanya (20% lagi adalah pengaruh lingkungan).


Kesadaran berpikir seperti ini akan mendorong guru untuk lebih banyak berkomunikasi dengan ayah dan ibu, tidak lagi sekedar membatasi hanya kepada murid. Ya! Wujudkan ruang konsultasi (saluran dimana orang tua bisa bertanya), giatkan diskusi (dudukkan orang tua sebagai rekan berbagi ilmu sekaligus belajar dari mereka), jalinlah kolaborasi (bekerja sama berbagi peran dalam posisi masing-masing). 


Dalam keadaan tertentu, guru mendapatkan kesempatan istimewa untuk diidolakan murid lebih daripada orang tuanya sendiri. Bukankah sering kita mendengar orang tua yang berkomentar, “Omongan orang tuanya tidak didengarkan, tapi kalau gurunya langsung dilaksanakan.” Ini bukan pernyataan iri,, tapi sekedar menyampaikan fenomena. Salah satu hal yang melatarbelakanginya adalah karena di rumah anak melihat bagaimana akhlak orang tua yang sesungguhnya. Sedangkan di sekolah anak melihat akhlak guru yang telah dipersiapkan. 

Nah, kesempatan ini baik sekali dipergunakan guru untuk mendukung peran orang tua di rumah. Maksudnya, kalau guru mengangkat wibawa orang tuanya, maka hal tersebut akan mendorong di anak untuk berbakti kepada orang tua sepulangnya di rumah nanti.


Jangan sampai sepulang dari sekolah 

anak membenturkan apa yang dilakukan orangtua dengan nasihat gurunya

Karena orang tua adalah pintu surga bagi anaknya 

seberapapun tingginya kedudukan guru. 

Jaga lisan kita dan bantu anak untuk hormat dan taat pada orang tua.


Membenturkan? Bagaimana maksudnya?

Contohnya, ketika murid membaca doa makan "Allahumma bariklana..."

Kemudian Guru langsung melompati nasihat tanpa tahapan, "Itu bid'ah, Nak, yang benar bismillah" 

Meski nadanya lembut, tapi polanya menyalahkan

Maka ketika ayah di rumah berdoa, anak kemungkinan besar meniru cara berdakwah guru dengan langsung menyalahkan.


Atau yang langsung…

Ketika santri bertanya, "Ustadz... Tapi di rumah ayahku biasanya begini."

Dijawab, "oh itu kan pendapat ayahmu Nak... Kalau menurut ulama begini..."

Meski ilmiah… dapat dipertanggungjawabkan…

Namun kita tidak menghendaki anak belajar menggunakan dalil tapi untuk menjatuhkan orang tua


Lalu bagaimana?

Inilah seni berdakwah yang perlu dilatih, karena dari guru santri akan belajar menjadi ahli dakwah yang luwes sebagaimana pesan baginda Nabi, “Mudahkanlah dan janganlah engkau persulit orang lain dan berilah kabar gembira pada mereka, jangan membuat mereka menjadi lari”.  Mudah-mudahan segera disambung dalam tulisan selanjutnya… Wallahu a’lam bish showab.





Di tengah-tengah lingkaran kami duduk-duduk itu kemudian Ayah meletakkan beberapa lembar daun dan segelas air. Kemudian beliau memberi tebakan, "Bagaimana caranya mencampur ini dan ini lalu diolah menjadi susu...?"


Kontan wajah anak-anaknya melongo, saling bertolehan. Memang bisa? Serius ini?


Tapi anak-anak yang duduk di Kuttab Qonuni sudah paham. "Diberikan ke sapi!" 


Ayah tak mudah menyerah, "Tidak semua sapi bisa. Sapi jantan tidak akan pernah bisa, jadi hanya yang betina." Semuanya berpose seperti Ooo... Maka ayah pun menambahkan, "Tapi tidak semua betina, melainkan yang barusan melahirkan saja." Moncong anak-anaknya semakin bundar, Ooo...


"Jadi coba bayangkan, rumput... air... jadi susu. Ajaib bukan?" Ayah merendahkan suaranya sembari mendekat, "Dan belum pernah ada seorang manusia pun yang bisa membuat susu sendiri. Itu artinya tidak mungkin..."


Salah satu dari kami mencoba melucu, "Bagaimana dengan ibu hamil?"

"Maksudmu setelah melahirkan?" Ayah mengoreksi, "Sama saja. Kalau susu ASI hanya keluar di saat Allah menetapkannya, yakni setelah kelahiran. Bukan terserah ibunya. Padahal kan badan-badannya sendiri, kenapa tidak bisa memproduksi sendiri?"


"Dengar! Masih ada lagi..." Sambung Ayah bersemangat. "Ada berapa air yang kita kandung dalam tubuh?"

Kami mencoba menghitung... keringat? air liur? darah? eh... pipis? 


"Mana air yang sampah, harus dibuang?" Kami menjawabnya kompak.

"Mana air yang bukan sampah, dibutuhkan tubuh, tapi tidak bisa diminum?" Kami terus berebut menjawabnya.

"Mana air yang untuk diminum?" Tanpa kesulitan, semuanya terjawab.


Ayah memasang nada rendah yang sama, biasanya untuk menekankan poin yang penting atau kesimpulan. "Bayangkan... kalau saat menyusu yang keluar adalah pipis, saat berkeringat ternyata darah, lalu yang mengalir di pembuluh kita adalah susu... Pernahkah ada yang tertukar begitu?" Pertanyaan retoris ini membuat anak-anak menggeleng.


"Betapa telitinya Allah yang memisahkan semuanya itu. Padahal kalau diserahkan urusannya kepada kita, tertukar sekali saja bisa gawat urusannya."


Kemudian Ayah mengeluarkan gelas-gelas susu, "Nah... ayo kita minum!"


"Aku mau!!!"


Kali ini, tegukan susu menjadi sangat berharga. Alhamdulillah....

21 Januari 2021

Ini tahapan yang perlu direnungkan oleh juru dakwah di bidang pendidikan,

Diriwayatkan dari Mu’adz ibn Jabal bahwa Rasulullah shallallahu'alaihi wasallam bersabda:

اسْتَعِينُوا عَلَى إِنْجَاحِ حَوَائِجِكُمْ بِالْكِتْمَانِ، فَإِنَّ كُلَّ ذِي نِعْمَةٍ مَحْسُودٌ

“Berusahalah untuk mewujudkan hajatmu dengan menyembunyikannya, karena setiap orang yang mempunyai nikmat akan mendapatkan sikap hasad dari yang lain”. HR Thabrani 

Tulisan ini diperoleh dari status FB Kang Irvan Noviandana dengan sedikit tambahan

Sebuah nasihat mengatakan:

مِنْ وَهْيِ الْأَمْرِ إِعْلَانُهُ قَبْلَ إِحْكَامِهِ

“Termasuk kerapuhan sebuah rencana adalah mengumumkannya sebelum mengerjakannya dengan sempurna”. (al-Raghib al-Ashfihani: al-Dzari’ah ila Makarim al-Syari’ah).

Ini nasihat yang sangat tepat khususnya bagi para juru dakwah di zaman fitnah. Karena sebuah kebaikan apabila besar, maka biasanya memerlukan waktu yang sangat lama untuk ditumbuhkan. Jangan sampai saat baru menanam benih sudah dipatuk oleh hewan atau dijadikan mainan anak kecil. Kebaikan perlu dipagari agar terlindung kuat dari bahaya, sampai nanti menjadi pohon besar, orang dewasa sekalipun tidak mudah merobohkannya.

Kalau mendirikan sekolah, sekedar ada, daripada nggak ada, lebih baik ditutup saja. Apalagi kalau sekolahnya sudah meminjam label Islam, menerima guru-guru Muslim, maka tanggung jawabnya besar, karena Islam itu “ya’lu wa la yu’la alayhi” Lha kalau ternyata sekolah Islam tidak tampil sebagai yang terbaik di atas semua sekolahan, apalagi sampai biasa-biasa saja, maka bisa jadi umat kehilangan kepercayaan, bukan cuma kepada sekolahnya tapi kepada konsep Islamnya.

Kuttab, konsep sekolah dalam sejarah Islam, sederhana namun menekankan hal yang terpenting dalam pendidikan

Coba bayangkan, bila di sekolah diajarkan ilmu, tapi di tingkat yang sama, ilmu tersebut sudah dicapai jauh di sekolah lain… sampai-sampai di sekolah Islam itu menjadi dikenal masyarakat sebagai tempat yang “mutu ilmunya rendah” maka apakah kita tidak disebut bertanggungjawab karena ikut berandil buruknya citra sekolah Islam? Apalagi kalau yang rendah justru masalah mentalitasnya.

Apakah sekolah Islam itu cukup hanya dengan kewajiban berjilbab, membaca Al-Qur'an, dan tambahan pelajaran agama fikih? Sedangkan kedisiplinan beribadah rendah, semangat berjuangnya loyo, apalagi sampai kemproh alias jorok. Apakah layak menyandang kebesaran Islam?

Sekolah yang seperti ini, apa mau dilanjutkan? Mending itu tadi… ditutup saja!

Kalau tidak mau ditutup, ya harus dikejar idealismenya, menjadi sekolah terbaik, tertinggi, dalam bidang yang memang menjadi perhatian sekolah tersebut.

Belum muncul pertanyaan? Ya. Seharusnya Anda bertanya, caranya bagaimana?

Tentu akan panjang kalau dirinci di sini, tapi kuncinya adalah, buka lembar sejarah. Dulu sekolah-sekolah Islam telah menghasilkan ulama-ulama besar. Namanya Kuttab. Jangan terpatok pada namanya, tapi bagaimana konsepnya, itu lebih penting. Kita tinggal meniru, dan mengulangnya kembali. Ternyata, untuk itu pun butuh upaya besar. Selamat belajar!

Dalam sebuah kajian bersama Ustadz Adian Husaini, beliau bercerita pengalaman pribadinya, yang bisa dijadikan contoh kecil yang bisa berkembang menjadi sekulerisme. 

Di beberapa pesantren boarding, terdapat jadwal kegiatan santri. Dimulai tahajud jam 03.30 pagi, sholat subuh berjamaah, taklim, mandi dan lain-lain... Tertulis jam 7.30 dimulai KBM, ustadz Adian Husaini bertanya, “Apa itu KBM?”

Wah, mengetes nih… 

“Kegiatan belajar mengajar, tadz.” Jawab Ustadz yang membina.

“Loh, apakah sejak tahajud tadi, anak sholat, tadarus, bersih-bersih, sarapan itu anak nggak belajar?” Ini berbahaya, karena anak beranggapan bahwa belajar itu saat masuk kelas untuk ilmu matematika, bahasa, sains, bukan saat berusaha menjadi orang baik dan taat.

Padahal justru itulah kegiatan intinya. Pendidikan adalah penanaman nilai-nilai kebaikan seperti cinta kejujuran, kerja keras, termasuk benci kemalasan, benci kelemahan, dan sebagainya. 

Menanamkan nilai Itu harus punya 4, 

  1. teladan, 
  2. pembiasaan, 
  3. motivasi, 
  4. penegakan aturan.

03 Desember 2020

Nanti, ada usia tertentu dimana santri harus dilatih untuk bersikap rusyd, mampu mengatur keuangan mereka sendiri. Sebelum itu, mereka terlebih dulu dilatih gemar berbagi, cinta bersedekah, agar kelak bila Allah menganugerahkan kepada mereka kemudahan rizqi maka hal tersebut tidak menjadikan harta mereka berbahaya di tangannya.


Maka sekolah tidak menyediakan kantin. Sebagai gantinya kudapan dan makan siang santri dihimbau untuk disiapkan dari rumah, bersama orang tua. Jadi mereka membawa bekal sendiri. Tujuannya agar tidak muncul budaya “suka jajan” yang konotasinya negatif. Selain negatif dari aspek kesehatan, juga negatif dari aspek kejiwaan. 


Alhamdulillah, dengan tidak memberi uang saku, keluarga-keluarga menjadi lebih kreatif. Sebagian bunda membuat jadwal variasi kudapan. Sebelum berangkat sekolah anak-anak ada yang giat diikutkan memasak bersama bunda menyiapkan bekalnya sendiri. Santri lebih bangga dengan masakan bundanya, sehingga momen bersama keluarga sangat indah dikenang. 


Masakan bunda tentu lebih terjaga dari sisi kesehatan. Dibandingkan dengan makanan ringan buatan pabrik yang sarat dengan bahan tambahan, yang mudah merusak kesehatan. Dampak pertamanya yang seharusnya segera terdeteksi adalah anak berkurang nafsu makannya, suka pilih-pilih makanan, tidak suka sayuran. Bahkan bila sudah berlebihan, anak menjadi penuntut. Mereka mudah merengek untuk minta dibelikan setiap apa yang dilihatnya.


Kelak, di usia rusyd, (QS Al-Maidah :6) anak dididik mengelola harta untuk menguji kedewasaannya, misalnya diberikan uang saku mampukah untuk menabung, atau lebih baik lagi dengan mengembangkan harta itu dalam kebaikan.


26 Juli 2017


Tahun 1492 M, telah berlalu 8 abad semenjak kegemilangan Thariq bin Ziyad yang membebaskan Andalusia (711 M) dari perbudakan manusia menuju penghambaan hanya kepada Allah lewat jalan Islam, kota Granada-Andalusia dikepung oleh tentara Salib Kristen Katolik. Alih-alih bertempur mempertahankan diri, Sultan Abu Abdillah (Sultan Muhammad  XII) ternyata memberikan semua kekuasa-annya kepada Nasrani. Ia tidak memilih mempertahankan kehormatan Islam dengan terhormat melalui jalan jihad. Ia malah menyerah. Menurut sangkaannya itu adalah jalan yang aman. Keuntungan duniawi yang dihitung-hitungnya, Ia bermimpi kembali ke tanah Maroko beserta keturunannya.
Namun Apa yang terjadi kemudian?

Mulailah sejarah yang kelam. Islam dibantai dengan berbagai cara di Spanyol dan portugis. Rumah-rumah kaum Muslimin dibakar dibumi-hanguskan, yang menolak murtad disiksa bahkan dibunuh, sedangkan sisanya dipaksa memeluk agama Nasrani. Genosida terhadap umat Islam tersebut merupakan yang pertama di Eropa, sebagai kejahatan besar terhadap kemanusiaan. Kaum Muslimin dipaksa menelan pilihan yang pahit: tetap tinggal di tanah Spanyol dengan catatan harus murtad/dibunuh atau diusir keluar dari Spanyol. Sejarawan mencatat 250.000 hingga 350.000 jiwa mengungsi ke pantai utara Maroko dan Tunisia.

Kini Kita tidak melihat cahaya Islam di Spanyol dan Portugis. Seolah-olah Islam tidak pernah didakwahkan di tanah ini. Lalu bagaimana dengan nasib Raja Abu Abdillah yang lari dari panggilan jihad? Di kemudian hari diketahui ternyata ia dan anak keturunannya hidup miskin dan meminta-minta. Inilah balasan bagi mereka yang meninggalkan jihad.
Pelajaran berharga dari tanah Spanyol. Islam yang dulunya berkibar menerangi dunia melalui tanah Spanyol selama 8 abad namun kini tiada sisa sedikitpun. Sungguh tragis! Apa yang menyebabkan tidak turunya bantuan dari langit? Apa sebabnya hingga mereka dibantai? Apa sebabnya Islam di Spanyol benar-benar hilang tak berbekas?

Diantara penyebabnya adalah:

1. Cinta dunia

Perebutan kekuasaan menye-babkan bangsa Moor (penduduk Muslim Spanyol) yang memeluk Islam saat itu terjangkiti penyakit wahn (cinta dunia dan takut mati), mereka bergelimang maksiat, saling bertikai, sampai-sampai rela menyerang saudara hanya untuk mendapatkan tahta kerajaan. Pertikaian sesama Muslim ini tentu selain melelahkan, menguras tenaga, dan membingung-kan umat. Energi yang seharusnya difokuskan untuk membangun kekuatan menghadapi musuh malah dihabiskan untuk mengganyang sesama saudara. Musuh di kejauhan cukup ongkang-ongkang kaki sambil menunggu saat yang tepat melumat kedua belah pihak dari kaum Muslimin. Fenomena ini terjadi berulang kali dalam sejarah. Bahkan tak luput juga dalam sejarah Nusantara saat dijajah oleh bangsa Kafir. Tidakkah kita mengambil pelajaran?

2. Meninggalkan jihad.

Begitu cintanya bangsa Moor saat itu dengan dunia hingga tidak ada panggilan untuk berjihad disaat agama mulai diinjak-injak oleh musuh. Tentara Nasrani menyusupkan budaya-budaya kemaksiatan yang merusak kehidupan Islam, namun umat pada saat itu malah terseret arus sehingga hilang amar ma’ruf nahi munkar. Maka Allah mencabut rasa takut dari musuh-musuhnya yang mendorong orang-orang kafir berani menyerang kaum muslimin.

3. Meminta bantuan kepada non muslim

Ibarat ada dua domba yang saling berseteru memperebutkan ladang rumput, kemudian meminta srigala jadi hakim diantara mereka. Maka sang serigala akhirnya memakan kedua domba tersebut. Inilah yang terjadi di Spanyol. Mereka meminta bantuan orang-orang Kafir untuk melawan saudaranya sesama muslim, bahkan ayahnya demi mendapatkan tahta. Tentu saja, pihak non-muslim (Nasrani) bersatu untuk menghabisi umat Islam. Inilah kenapa Allah melarang kita menjadikan non muslim sebagai wali/pelindung/pemimpin.

4. Lunturnya iman.

Maraknya kebodohan akan merajalelakan kemaksiatan. Umat tidak bisa membedakan salah-benar. Permasalahan yang terjadi di tengah kaum Muslimin tidak diselesaikan dengan jalan yang sesuai agama. Saat agama dianggap tidak lagi penting dan masjid menjadi sunyi kemudian gaung jihad tidak terdengar, di saat itulah jurang kehancuran umat Islam menganga.

Renungan

Kondisi terpuruk yang menimpa umat Islam tidak hanya terjadi saat itu, melainkan berulang di berbagai zaman ketika umat semakin jauh dari Tuhannya. Tengoklah catatan keruntuhan pusat Islam di Turki tahun 1924, dan puluhan perpecahan kerajaan-kerajaan Islam lainnya akibat politik devide et impera di tanah air. Kini kondisi umat Islam di penjuru dunia termasuk juga Nusantara rupanya sedang diuji untuk yang kesekian kalinya.

Siapa yang tidak sedih melihat kondisi ini. Layaklah kita untuk menangis. Menangislah wahai umat Islam akan dosa-dosamu. Mohonlah kepada Tuhanmu dengan sungguh-sungguh. Jangan seperti  penduduk Andalusia yang menangis ketika mereka sudah kehilangan segalanya. Bangkitlah kala umat Islam ditindas dan kitab sucinya dihina dengan mengorbankan harta, tenaga, dan waktu kita untuk membela agama.

Kalaupun tidak banyak yang kita bantu, tunjukkan semua ghiroh kalian yang tersisa ketika saat ini umat Islam sedang diintai dari segala penjuru. Marilah kita ketuk pintu langit dengan tangisan do'a iba kita kepada Allah Al Malik untuk para ulama, para syuhada, pejuang Islam, dan semua saudara kita.

Marilah kita pelajari sebab-sebab kejatuhan Islam dalam lembaran-lembaran sejarah. Sebab di balik itu juga terdapat lembaran-lembaran emas yang mengukir kegemilangan peradaban langit ini di muka bumi. Sejarah itu selalu berulang. Akankah kita menjadi pelaku dan saksi terulangnya sejarah kelam ataukah sejarah gemilang? Semua itu dikembalikan kepada amal perbuatan kita sendiri, karena:

 “Sesungguhnya Allah tidak merubah keadaan suatu kaum sehingga mereka merubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri.” [Ar-Ra’d/13:11].

Ya Allah bimbinglah kami...
Wallahu a’lam Bishowab

oleh Ustadz Ainur Rhain (PJ Syariah) dan Gilig Pradhana (Pengelola) di Kuttab Al-Fatih Jember

18 Juli 2017


MANFAAT SERAGAM:
Menunjukkan Identitas tapi bukan menunjuk-nunjukkan identitas - memudahkan untuk mengenali, yakni tatkala di tempat umum akan sulit diketahui mana santri kuttab dan mana yang bukan. Sesama santri kuttab akan cepat membaur dengan mereka yang memiliki persamaan, khususnya seragam yang langsung dapat dikenali.
Seragam janganlah dijadikan alat untuk mengunggul-unggulkan diri. Karena Allah sama sekali tidak melihat rupa hamba-Nya, melainkan ketaqwaannya.
Seragam juga bermanfaat untuk melatih kedisiplinan dan keteraturan. Yakni kewajiban mengenali seragam tertentu untuk dikenakan di waktu tertentu. Rutinitas ini akan mendorong santri (baca: orang tua) untuk memiliki jadwal dan persiapan.
Namun jangan sampai tergantung kepada seragam, sampai-sampai bila pada hari yang ditentukan seragamnya kotor/belum siap, maka anak mengambek tidak mau sekolah. Sebab seragam hanyalah bagian dari pendidikan...
HIKMAH TIDAK DISERAGAMKAN
Adapun hari-hari tertentu tidak ada seragam yang ditetapkan, melainkan hanya kode etik berbusana misalnya "baju batik", "baju putih", dan "busana muslim bebas" adalah untuk menunjukkan kepribadian sesungguhnya dari keluarga kita. Karena boleh jadi seragamnya menutup aurot, namun koleksi baju rumah lainnya menor kurang syar'i. Sehingga terkesan berpakaian syari hanya di sekolah/kantor saja.
Contohnya adalah di TK Islam, SD Islam, SMP hingga SMA Islam semuanya seragam yang syar'i. Namun begitu seragamnya dibebaskan saat masuk kuliah, langsung berubah 180 derajat menggunakan celana jeans ketat/pensil.
Tentu tidak semua begitu. Kita berdoa kepada Allah agar diberi keistiqomahan hingga akhir hayat. Maka dari itu, merupakan hikmah yang dapat dipetik di kuttab dengan adanya hari-hari tanpa seragam adalah melatih diri untuk berbusana yang penuh adab sepanjang hari. #GiligGuru #Seragam #Sekolah Wallahu a’lam bish showab

Mengenal Kuttab

Kuttab ialah Lembaga pendidikan anak-anak usia 5 – 12 tahun yang mulai diaplikasikan sejak bulan Juni 2012, yang kurikulumnya menitik beratkan pada Iman dan Al-Qur’an. Kurikulum yang dirumuskan dalam diskusi rutin sejak 5 tahun silam dan dijadikan modul-modul panduan dalam pembelajaran. Lembaga yang menggali kurikulumnya dari kitab-kitab para ulama berlandaskan Al-Qur’an dan Assunah. Lembaga Pendidikan yang memprioritaskan tahapan pendidikan.


Konsep kuttab bukanlah hal yang baru, hanya sudah terlalu lama sejarah peradaban ini terbenam oleh debu-debu zaman. Al-Fatih berusaha untuk mengawali membuka kembali lembaran – lembaran sejarah itu yang terlipat. Maka lahirlah di tahun 2012, bermodal keyakinan berharap kebesaran.

POSKU

Blog ini dikelola oleh Persatuan Orangtua Santri Kuttab (POSKU) Al-fatih Jember

Kontak kami

Address: Jl. Kartini 52 Jember (Depan Upnormal) | Telp: (Penanggung Jawab) 0895-362-303030 / 0822-3376-9000

Denah

Denah
Klik kanan > Open image in new tab